Pixi.

Pixi is a creative multi-concept WordPress theme will help business owners create awesome websites.

Address: 121 King St, Dameitta, Egypt
Phone: +25-506-345-72
Email: motivoweb@gmail.com

Indonesia Darurat Karhutla

  • By shalihah ramadhanty nurhaliza
  • September 28, 2019
  • 0 Comment
  • 5 Views

Kebakaran hutan dan lahan atau yang biasa disingkat Karhutla sudah terjadi semenjak tahun 1997 di Kalimantan Tengah. Sejak saat itu, Karhutla semakin marak dan terjadi di berbagai titik di Indonesia, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. Pada tahun 2015, Karhutla pernah memicu terjadinya asap pekat yang berasal dari 120 ribu titik api. Beruntung, pada saat itu hujan besar terjadi dan berhasil menurunkan titik api secara drastis. Lalu, bagaimana dengan Karhutla yang saat ini sedang marak diperbincangkan?

Kebakaran hutan dan lahan kembali mengambil alih perhatian publik sejak pertengahan Agustus 2019. Saat ini, kebakaran terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan. Pada tanggal 21 September 2019, 2.288 titik api berkualitas udara sedang dan tinggi terpantau di beberapa titik di pulau Sumatera dan Kalimantan. Kualitas udara berdasar konsentrasi PM10 adalah: Riau 314 (berbahaya), Jambi 238 (sangat tidak sehat), Sumatera Selatan 155 (tidak sehat), Kalimantan Barat 324 (berbahaya), Kalimantan Tengah 409 (berbahaya) dan Kalimantan Selatan 22 (baik).

Penyebab paling mendasar dari Karhutla adalah pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, baik oleh perusahaan dalam negeri maupun mancanegara. Pembukaan lahan dilakukan dengan membakar tanaman gambut yang sebenarnya merupakan tanaman yang tidak mudah terbakar, bahkan di musim kemarau sekalipun. Oleh karena itu, oknum-oknum mengakalinya dengan membuat kanal yang berisi sungai-sungai kecil untuk mengalirkan air dari akar gambut sehingga gambut menjadi kering. Saat dibakar, api yang telah masuk ke akar gambut sangat sulit untuk dipadamkan.

Asap yang timbul dan dihirup terus menerus mengakibatkan ISPA bagi kebanyakan orang. Di Batam, Penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) meningkat 100% pada September 2019. Di Kalimantan Tengah, penderita ISPA mencapai 2.367 jiwa. Bahkan, di Palangkaraya bayi berusia tiga tahun meninggal akibat virus yang dibawa oleh asap. Tidak hanya manusia, hewan juga turut menjadi korban, misalnya ular dan beruang yang ditemukan panitia selama proses pemadaman.

Untuk memadamkan titik api, saat ini dikerahkan 400 personil yang terdiri dari TNI, POLRI, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat serta Mahasiswa. “Helikopter dari Jambi dan Sumsel juga akan digeser mendekati lokasi kebakaran,” ujar Plt. Kepala Pusat Data dan Informasi Masyarakat BNPB Agus Wibowo, Minggu (22/9).

-sall

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *